Assalamu'alaikum Wr. Wb. ----- SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI PIMPINAN ANAK CABANG GERAKAN PEMUDA ANSOR WATULIMO ----- Semoga Bermanfaat Untuk Kita Semua!

Rabu, 10 Agustus 2022

Kisah Ilmu Kanuragan Mbah Cholil Bisri Rembang

Posted by ADMIN On Rabu, Agustus 10, 2022


Bagi keluarga besar Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh Rembang, Maulud dan Rajab merupakan dua bulan yang istimewa. Di bulan Maulud, pesantren ini menyelenggarakan haul gede untuk memperingati wafatnya KH. Bisri Mustofa dan durriyyahnya dari atas-bawah hingga kiri-kanan. KH. Cholil Harun, KH. Suyuti Cholil, Nyai Ma’rufah Bisri Mustofa dan lain lain adalah nama-nama kiai-bu nyai yang menjadi bagian inti dari haul besar ini.

Biasanya diselenggarakan dalam beberapa hari, puncaknya adalah tahlil akbar di makam Mbah Bisri dan malamnya diadakan pengajian umum.

Sedang Rajab merupakan bulan lahir dan wafatnya KHM. Cholil Bisri (Mbah Cholil). Beliau lahir pada 27 Rajab 1263 H (12 Agustus 1941) dan meninggal pada 7 Rajab 1424 H bertepatan dengan 24 Agustus 2004. Pada bulan ini diadakan haul—kami menyebutnya sebagai haul cilik.

Peringatan wafatnya al-maghfurlah Mbah Cholil ini diadakan dengan sangat sederhana. Santri dan tetangga kiri-kanan hadir di rumah untuk membaca tahlil yang dihadiahkan untuk abah kami. Semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya dan diampuni semua dosanya.

Pada Senin, 2 Maret 2020, keluarga besar Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh Rembang akan mengadakan haul cilik itu.

Selain untuk mendoakan beliau, haul juga momentum yang penting bagi keluarga dan santri untuk mengenang dan—kalau bisa—meneladani laku baik ketika beliau masih hidup.

Sekaligus mengingat kembali perjuangan beliau yang sudah dan yang belum dilakukan.

Tekadnya hanya satu, yakni melanjutkan perjuangan yang telah dimulai dan akan segera dilakukan. Syukur-syukur bisa menambahnya hingga menjadi lebih sempurna.

Putra sulung Mbah Bisri Mustofa dan Ny. Ma’rufah Cholil Harun ini lahir di Kasingan Rembang sebelum Indonesia merdeka. Era penjajahan masih berlangsung dan seluruh rakyat menderita karenanya.

Saat itu terjadi perpindahan kekuasaan dari penjajah Belanda beralih ke penjajah Jepang. Suhu politik memanas akibat tentara Jepang mendarat di pesisir-pesisir pantai termasuk Rembang. Perang setiap saat bisa saja terjadi.

Para santri yang mondok di Pesantren Kasingan asuhan KH. Cholil Harun juga terkena imbasnya. Mereka memilih atau disuruh pulang ke rumah masing-masing mengingat situasi yang genting.

Mbah Bisri Mustofa beserta keluarga kecilnya juga terpaksa mengungsi ke Sedan (salah satu kecamatan di Rembang yang terletak di bagian timur) untuk menghindari hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Dalam suasana mengungsi, serba kekurangan sudah menjadi karibnya setiap hari.

Memotong Jalan~

Kisah sedih sebagai pengungsi ini berulang lagi saat terjadi pemberontakan pertama PKI di Madiun 1948-1949. Pemberontakan ini lebih tepat disebut sebagai pengkhiatan PKI terhadap NKRI yang baru saja diproklamasikan pada 1945.

Pemimpin pengkhiatan itu, Muso dan Amir Syarifuddin seperti menggunting di lipatan, memotong jalan para pahlawan yang telah berjuang merebut kemerdekaan NKRI lalu ingin merampas di pinggir jalan.

Yang lebih menyakitkan, PKI menjadikan kiai dan santri sebagai musuh dan target pembunuhan.

Akibat ulah PKI ini, Mbah Cholil kecil beserta adiknya Gus Mus dan seluruh keluarga harus mengungsi ke Pare Kediri kurang lebih selama dua tahun. Hidup serba kekurangan dihadapi setiap hari.

Selain itu, Mbah Cholil beserta keluarga juga menerima ancaman pembunuhan dari PKI. Salah perhitungan atau terlambat sedikit saja, bisa jadi Mbah Bisri beserta keluarganya akan menjadi cerita semata.

Dua kali mengungsi dan beratnya hidup di masa revolusi, membuat Mbah Cholil harus mempersiapkan hidup dengan sebaik-baiknya. 

Pada saat belajar di Pesantren Lirboyo Kediri yang diasuh KH. Mahrus Ali, selain belajar kitab kuning (turats), kesukaan Mbah Cholil terhadap ilmu kanuragan mulai tumbuh.

Sebagaimana diceritakan KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya, putra sulung Mbah Cholil) pada waktu itu, Lirboyo masyhur sebagai gudangnya ilmu hikmah dan kanuragan.

Dua santri kakak-beradik, yakni Mbah Cholil dan adiknya Gus Mus, tidak ketinggalan ikut getol berlatih, mesu diri, tirakat, menekuni gemblengan dan mempelajari berbagai ilmu kejadugan.

Penampilan kedua santri muda mulai berubah dan mengikuti trend zamannya saat itu. Rambut gondrong sampai ke punggung pertanda tak mempan dicukur.

Baju khas pendekar dan berwarna hitam (baju kutung dan celana komprang sebatas dengkul). Memakai ikat kepala batik dan berterompah kayu (sandal teklek).

Suatu saat kesempatan untuk pulang ke Rembang tiba.

Dengan atribut kependekaran seperti itu, keduanya pulang menuju ke rumah. Dalam perjalanan, banyak orang disekitarnya yang segan melihat keduanya. Takut dikira menantang.

Begitu sampai di rumah, watak kependekarannya rontok seketika, ketika, tak disangka, Mbah Bisri, ayahanda mereka marah besar!

Segala pakaian dan atribut kependekaran mereka dilucuti dan dibakar. Termasuk rambutnya harus dicukur.

Untuk urusan rambut ini, Mbah Bisri harus turun tangan sendiri. Karena tak ada yang mampu mencukur rambut mereka—benar-benar jadug rupanya, Mbah Bisri memotong habis rambut mereka.

Pendek kata mereka divonis harus berhenti main jadug-jadugan!

Kenapa Mbah Bisri melakukan semua itu? “Aku saja cuma kiai, kok kalian mau jadi jadi wali” kata Mbah Bisri.

Mbah Cholil beserta adiknya Gus Mus akhirnya pindah mondok ke Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

Dari sekian banyak atribuat kejadugan, ada satu yang tidak pernah ditinggalkan. Hingga akhir hayatnya,

Mbah Cholil selalu berteklek ketika di rumah.

Suara teklek ketika bersentuhan dengan tanah menjadi tanda merdu bagi santri untuk segera memulai ngaji. Tak…tok…tak…tok…

Lahul fātihah ... 
.
.
Sumber : FB Generasi Muda Nusantara

Jumat, 05 Agustus 2022

Dalil-dalil Cinta Tanah Air dari Al-Qur’an dan Hadits

Posted by ADMIN On Jumat, Agustus 05, 2022


Nasionalisme berasal dari kata nation (B. Inggris) yang berarti bangsa. Menuru ygt kamus besar bahasa Indonesia, kata bangsa memiliki beberapa arti: (1) kesatuan orang yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya serta berpemerintahan sendiri; (2) golongan manusia, binatang atau tumbuh-tumbuhan yang mempunyai asal usul yang sama dan sifat khas yang sama atau bersamaan, dan (3) kumpulan manusia yang biasanya terikat karena kesatuan bahasa dan kebudayaan dalam arti umum, dan biasanya menempati wilayah tertentu di muka bumi (Lukman Ali. Dkk., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1994, hal. 98).
 
Istilah nasionalisme yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia memiliki dua pengertian: paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri dan kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa. Nasionalisme dalam arti sempit dapat diartikan sebagai cinta tanah air. Selanjutnya, dalam tulisan ini yang dimaksud dengan nasionalisme yaitu nasionalisme dalam arti sempit.

Al-Jurjani dalam kitabnya al-Ta’rifat mendefinisikan tanah air dengan al-wathan al-ashli. 
 
اَلْوَطَنُ الْأَصْلِيُّ هُوَ مَوْلِدُ الرَّجُلِ وَالْبَلَدُ الَّذِي هُوَ فِيهِ 
 
Artinya; al-wathan al-ashli yaitu tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya. (Ali Al-Jurjani, al-Ta’rifat, Beirut, Dar Al-Kitab Al-Arabi, 1405 H, halaman 327)
 
Dalil-dalil Cinta Tanah Air

Mencintai tanah air adalah hal yang sifatnya alami pada diri manusia. Karena sifatnya yang alamiah melekat pada diri manusia, maka hal tersebut tidak dilarang oleh agama Islam, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran/nilai-nilai Islam. 
 
Meskipun cinta tanah air bersifat alamiah, bukan berarti Islam tidak mengaturnya. Islam sebagai agama yang sempurna bagi kehidupan manusia mengatur fitrah manusia dalam mencintai tanah airnya, agar menjadi manusia yang dapat berperan secara maksimal dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, serta memiliki keseimbangan hidup di dunia dan akhirat. 

Berkenaan dengan vonis bahwa cinta tanah air tidak ada dalilnya, maka guna menjawab vonis tersebut, perlu kiranya kita mencermati paparan ini. Berikut adalah dalil-dalil tentang bolehnya cinta tanah air:
 
1. Dalil Cinta Tanah Air Dari Al-Qur’an
 
Salah satu ayat Al-Qur’an yang menjadi dalil cinta tanah air menurut penuturan para ahli tafsir adalah Qur’an surat Al-Qashash ayat 85:
 
إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ
 
Artinya: “Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” (QS. Al Qashash: 85)
 
Para mufassir dalam menafsirkan kata "معاد" terbagi menjadi beberapa pendapat. Ada yang menafsirkan kata "معاد" dengan Makkah, akhirat, kematian, dan hari kiamat. Namun menurut Imam Fakhr Al-Din Al-Razi dalam tafsirnya Mafatih Al-Ghaib, mengatakan bahwa pendapat yang lebih mendekati yaitu pendapat yang menafsirkan dengan Makkah.
 
Syekh Ismail Haqqi Al-Hanafi Al-Khalwathi (wafat 1127 H) dalam tafsirnya Ruhul Bayan mengatakan:
 
وفي تَفسيرِ الآيةِ إشَارَةٌ إلَى أنَّ حُبَّ الوَطَنِ مِنَ الإيمانِ، وكَانَ رَسُولُ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ كَثِيرًا: اَلْوَطَنَ الوَطَنَ، فَحَقَّقَ اللهُ سبحانه سُؤْلَهُ ....... قَالَ عُمَرُ رضى الله عنه لَوْلاَ حُبُّ الوَطَنِ لَخَرُبَ بَلَدُ السُّوءِ فَبِحُبِّ الأَوْطَانِ عُمِّرَتْ البُلْدَانُ.
 
Artinya: “Di dalam tafsirnya ayat (QS. Al-Qashash:85) terdapat suatu petunjuk atau isyarat bahwa “cinta tanah air sebagian dari iman”. Rasulullah SAW (dalam perjalanan hijrahnya menuju Madinah) banyak sekali menyebut kata; “tanah air, tanah air”, kemudian Allah SWT mewujudkan permohonannya (dengan kembali ke Makkah)….. Sahabat Umar RA berkata; “Jika bukan karena cinta tanah air, niscaya akan rusak negeri yang jelek (gersang), maka sebab cinta tanah air lah, dibangunlah negeri-negeri”. (Ismail Haqqi al-Hanafi, Ruhul Bayan, Beirut, Dar Al-Fikr, Juz 6, hal. 441-442)
 
Selanjutnya, ayat yang menjadi dalil cinta tanah air menurut ulama yaitu Al-Qur'an surat An-Nisa’ ayat 66.
 
وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِم أَنِ اقْتُلُوْا أَنْفُسَكم أَوِ أخرُجُوا مِن دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوْه إِلَّا قليلٌ منهم 
 
Artinya: “Dan sesungguhnya jika seandainya Kami perintahkan kepada mereka (orang-orang munafik): ‘Bunuhlah diri kamu atau keluarlah dari kampung halaman kamu!’ niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka..." (QS. An-Nisa': 66).
 
Syekh Wahbah Al-Zuhaily dalam tafsirnya al-Munir fil Aqidah wal Syari’ah wal Manhaj menyebutkan: 
 
وفي قوله: (أَوِ اخْرُجُوْا مِنْ دِيَارِكُمْ) إِيْمَاءٌ إِلىَ حُبِّ الوَطَنِ وتَعَلُّقِ النَّاسِ بِهِ، وَجَعَلَه قَرِيْنَ قَتْلِ النَّفْسِ، وَصُعُوْبَةِ الهِجْرَةِ مِنَ الأوْطَانِ. 
 
Artinya: “Di dalam firman-Nya (وِ اخْرُجُوْا مِنْ دِيَارِكُمْ) terdapat isyarat akan cinta tanah air dan ketergantungan orang dengannya, dan Allah menjadikan keluar dari kampung halaman sebanding dengan bunuh diri, dan sulitnya hijrah dari tanah air.” (Wahbah Al-Zuhaily, al-Munir fil Aqidah wal Syari’ah wal Manhaj, Damaskus, Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir, 1418 H, Juz 5, hal. 144)
 
Pada kitabnya yang lain, Tafsir al-Wasith, Syekh Wahbah Al-Zuhaily mengatakan: 
 
وفي قَولِهِ تَعَالى: (أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيارِكُمْ) إِشَارَةٌ صَرِيْحَةٌ إلَى تَعَلُقِ النُفُوْسِ البَشَرِيَّةِ بِبِلادِها، وَإِلَى أَنَّ حُبَّ الوَطَنِ مُتَمَكِّنٌ فِي النُفُوْسِ وَمُتَعَلِقَةٌ بِهِ، لِأَنَّ اللهَ سُبْحانَهُ جَعَلَ الخُرُوْجَ مِنَ الدِّيَارِ وَالأَوْطانِ مُعَادِلاً وَمُقارِنًا قَتْلَ النَّفْسِ، فَكِلَا الأَمْرَيْنِ عَزِيْزٌ، وَلَا يُفَرِّطُ أغْلَبُ النَّاسِ بِذَرَّةٍ مِنْ تُرابِ الوَطَنِ مَهْمَا تَعَرَّضُوْا لِلْمَشَاقِّ والمَتَاعِبِ والمُضَايَقاتِ. 
 
Artinya: Di dalam firman Allah “keluarlah dari kampung halaman kamu” terdapat isyarat yang jelas akan ketergantungan hati manusia dengan negaranya, dan (isyarat) bahwa cinta tanah air adalah hal yang melekat di hati dan berhubungan dengannya. Karena Allah SWT menjadikan keluar dari kampung halaman dan tanah air, setara dan sebanding dengan bunuh diri. Kedua hal tersebut sama beratnya. Kebanyakan orang tidak akan membiarkan sedikitpun tanah dari negaranya manakala mereka dihadapkan pada penderitaan, ancaman, dan gangguan.” (Wahbah Al-Zuhaily, Tafsir al-Wasith, Damaskus, Dar Al-Fikr, 1422 H, Juz 1, hal. 342)
 
Ayat Al-Qur’an selanjutnya yang menjadi dalil cinta tanah air, menurut ahli tafsir kontemporer, Syekh Muhammad Mahmud Al-Hijazi yaitu pada QS. At-Taubah ayat 122.
 
وَما كانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
 
Artinya: Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah: 122)
 
Syekh Muhammad Mahmud al-Hijazi dalam Tafsir al-Wadlih menjelaskan ayat di atas sebagai berikut:
 
وتُشِيرُ الآيةُ إلى أنَّ تَعَلُّمَ العلمِ أَمْرٌ واجِبٌ على الأمَّةِ جَميعًا وُجُوبًا لا يَقِلُّ عَن وُجوبِ الجِهادِ والدِّفاعُ عَنِ الوَطَنِ وَاجِبٌ مُقَدَّسٌ، فَإِنَّ الوَطَنَ يَحْتاجُ إلى مَنْ يُناضِلُ عَنْهُ بِالسَّيفِ وَإِلَى مَنْ يُنَاضِلُ عَنْهُ بِالْحُجَّةِ وَالبُرْهَانِ، بَلْ إِنَّ تَقْوِيَةَ الرُّوحِ المَعْنَوِيَّةِ، وغَرْسَ الوَطَنِيَّةِ وَحُبِّ التَّضْحِيَةِ، وَخَلْقَ جِيْلٍ يَرَى أَنَّ حُبَّ الوَطَنِ مِنَ الإِيمَانِ، وَأَنَّ الدِّفَاعَ عَنْهُ وَاجِبٌ مُقَدَّسٌ. هَذَا أَسَاسُ بِنَاءِ الأُمَّةِ، ودَعَامَةُ اسْتِقْلَالِهَا. 
 
Artinya: “Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa belajar ilmu adalah suatu kewajiban bagi umat secara keseluruhan, kewajiban yang tidak mengurangi kewajiban jihad, dan mempertahankan tanah air juga merupakan kewajiban yang suci. Karena tanah air membutuhkan orang yang berjuang dengan pedang (senjata), dan juga orang yang berjuang dengan argumentasi dan dalil. Bahwasannya memperkokoh moralitas jiwa, menanamkan nasionalisme dan gemar berkorban, mencetak generasi yang berwawasan ‘cinta tanah air sebagian dari iman’, serta mempertahankannya (tanah air) adalah kewajiban yang suci. Inilah pondasi bangunan umat dan pilar kemerdekaan mereka.” (Muhammad Mahmud al-Hijazi, Tafsir al-Wadlih, Beirut, Dar Al-Jil Al-Jadid, 1413 H, Juz 2, hal. 30)
 
Ayat-ayat di atas sebagaimana telah jelaskan oleh para mufassir dalam kitab tafsirnya masing-masing merupakan dalil cinta tanah air di dalam Al-Qur’an Al-Karim.
 
2. Dalil Cinta Tanah Air dari Hadits
 
Berikut ini adalah hadits-hadits yang menjadi dalil cinta tanah air menurut penjelasan para ulama ahli hadits, yang dikupas tuntas secara gamblang: 
 
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا ....... وَفِي الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّة حُبِّ الوَطَنِ والحَنِينِ إِلَيْهِ
 
Artinya: “Diriwayatkan dari sahabat Anas; bahwa Nabi SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat dinding-dinding madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah. (HR. Bukhari, Ibnu Hibban, dan Tirmidzi).
 
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany (wafat 852 H) dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari (Beirut, Dar Al-Ma’rifah, 1379 H, Juz 3, hal. 621), menegaskan bahwa dalam hadits tersebut terdapat dalil (petunjuk): pertama, dalil atas keutamaan kota Madinah; kedua, dalil disyariatkannya cinta tanah air dan rindu padanya.
 
Sependapat dengan Al-Hafidz Ibnu Hajar, Badr Al-Din Al-Aini (wafat 855 H) dalam kitabnya ‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari menyatakan:
 
وَفِيه: دَلَالَة عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّةِ حُبِّ الوَطَنِ وَاْلحِنَّةِ إِلَيْهِ
 
Artinya; “Di dalamnya (hadits) terdapat dalil (petunjuk) atas keutamaan Madinah, dan (petunjuk) atas disyari’atkannya cinta tanah air dan rindu padanya.” (Badr Al-Din Al-Aini, Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, Beirut, Dar Ihya’i Al-Turats Al-Arabi, Juz 10, hal. 135)
 
Imam Jalaluddin Al-Suyuthi (wafat 911 H) dalam kitabnya Al-Tausyih Syarh Jami Al-Shahih menyebutkan: 
 
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي حُمَيْدٌ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَأَبْصَرَ دَرَجَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ نَاقَتَهُ، وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا»، قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: زَادَ الحَارِثُ بْنُ عُمَيْرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ: حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا. حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: جُدُرَاتِ، تَابَعَهُ الحَارِثُ بْنُ عُمَيْرٍ. (درجات): بفتح المهملة والراء والجيم، جمع "درجة"، وهي طرقها المرتفعة، وللمستملي: "دوحات" بسكون الواو، وحاء مهملة جمع دوحة، وهي الشجرة العظيمة. (أوضع): أسرع السير. (مِنْ حُبِّها) أي: المدينةِ، فِيْهِ مَشْرُوعِيَّةُ حُبِّ الوَطَنِ والحَنينِ إليه 
 
Artinya: “Bercerita kepadaku Sa’id ibn Abi Maryam, bercerita padaku Muhammad bin Ja’far, ia berkata: mengkabarkan padaku Humaid, bahwasannya ia mendengan Anas RA berkata: Nabi SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat tanjakan-tanjakan Madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya. Berkata Abu Abdillah: Harits bin Umair, dari Humaid: beliau menggerakkannya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah. Bercerita kepadaku Qutaibah, bercerita padaku Ismail dari Humaid dari Anas, ia berkata: dinding-dinding. Harits bin Umair mengikutinya.” (Jalaluddin Al-Suyuthi, Al-Tausyih Syarh Jami Al-Shahih, Riyad, Maktabah Al-Rusyd, 1998, Juz 3, hal. 1360)
 
Sependapat dengan Ibn Hajar Al-Asqalany, Imam Suyuthi di dalam menjelaskan hadits sahabat Anas di atas, memberikan komentar: di dalamnya (hadits tersebut) terdapat unsur disyari’atkannya cinta tanah air dan merindukannya.
 
Ungkapan yang sama juga disampaikan oleh Syekh Abu Al Ula Muhammad Abd Al-Rahman Al-Mubarakfuri (wafat 1353 H), dalam kitabnya Tuhfatul Ahwadzi Syarh at-Tirmidzi (Beirut, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Juz 9, hal. 283) berikut:
 
وَفِي الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّةِ حُبِّ الْوَطَنِ وَالْحَنِينِ إِلَيْهِ .
 
Hadits berikutnya yang menjadi dalil cinta tanah air yaitu hadits riwayat Ibn Ishaq, sebagimana disampaikan Abu Al-Qosim Syihabuddin Abdurrahman bin Ismail yang masyhur dengan Abu Syamah (wafat 665 H) dalam kitabnya Syarhul Hadits al-Muqtafa fi Mab’atsil Nabi al-Mushtafa berikut: 
 
قَالَ السُّهَيْلِي: " وَفِي حَدِيْثِ وَرَقَةَ أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - لَتُكَذَّبَنَّهْ، فَلَمْ يَقُلْ لَهُ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - شَيْئاً، ثُمَّ قَالَ: وَلَتُؤْذَيَنَّهْ، فَلَمْ يَقُلْ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - شَيْئاً، ثُمَّ قَالَ: وَلَتُخْرَجَنَّهْ، فَقَالَ: َأوَ مُخْرِجِيَّ هُمْ؟ فَفِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى حُبِّ اْلوَطَنِ وَشِدَّةِ مُفَارَقَتِهِ عَلَى النَّفْسِ.
 
“Al-Suhaily berkata: Dan di dalam hadits (tentang) Waraqah, bahwasanya ia berakata kepada Rasulullah SAW; sungguh engkau akan didustakan, Nabi tidak berkata sedikitpun. Lalu ia berkata lagi; dan sungguh engkau akan disakiti, Nabi pun tidak berkata apapun. Lalu ia berkata; sungguh engkau akan diusir. Kemudian Nabi menjawab: “Apa mereka akan mengusirku?”. Al-Suhaily menyatakan di sinilah terdapat dalil atas cinta tanah air dan beratnya memisahkannya dari hati.” (Abu Syamah, Syarhul Hadits al-Muqtafa fi Mab’atsil Nabi al-Mushtafa, Maktabah al-Umrin Al-Ilmiyah, 1999, hal. 163)
 
Abdurrahim bin Husain Al-Iraqi (wafat 806 H) di dalam kitabnya Tatsrib fi Syarh Taqribil Asanid wa Tartibil Masanid, pada hadits yang sama, juga mengutip pendapatnya Al-Suhaily: 
 
فَقَالَ السُّهَيْلِيُّ فِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى حُبِّ الْوَطَنِ وَشِدَّةِ مُفَارَقَتِهِ عَلَى النَّفْسِ. 
 
Artinya: “Al-Suhaily berkata: di sinilah terdapat dalil atas cinta tanah air dan beratnya memisahkannya dari hati.” (Abdurrahim Al-Iraqi, Tatsrib fi Syarh Taqribil Asanid wa Tartibil Masanid, Beirut, Dar Ihya’i Al-Turats Al-Arabi, Juz 4, hal. 196)
 
Pemaparan di atas menunjukkan bahwa cinta tanah air memiliki dalil yang bersumber dari Qur’an dan Hadits, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama seperti; Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalany, Imam Jalaluddin al-Suyuthi, Abdurrahim al-Iraqi, Syekh Ismail Haqqi al-Hanafi, dan yang lainnya. Sehingga vonis cinta tanah air tidak dalilnya, jelas tidak benar dan tidak berdasar. 

--------------
Supriyono,Wakil Sekretaris PC GP Ansor Bidang litbang Kabupaten Kudus. 
Ansor Banser Nusantara.

Rabu, 06 Juli 2022

ALASAN GUS MUS AKTIF DI MEDIA SOSIAL

Posted by ADMIN On Rabu, Juli 06, 2022


Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Musthofa Bisri adalah salah satu ulama yang cukup aktif mengisi ruang media sosial.

Gus Mus sapaan akrabnya kini sudah berusia 77 tahun. Meskipun tidak setiap hari, Gus Mus setidaknya setiap hari Jumat bisa dipastikan mengunggah kalimat-kalimat sarat hikmah.
Pengikut setiap media sosialnya yang dimiliki juga tak sedikit, akun twitternya diketahui punya follower 2,4 juta lebih.

Gus Mus menegaskan, bahwa tokoh masyarakat, kiai, ulama, dan santri tidak boleh anti terhadap media sosial. Pasalnya, media sosial saat ini punya pengaruh besar dalam kehidupan manusia.

Sementara menurutnya, orang yang saat ini menguasai media sosial masih didominasi oleh orang-orang yang tidak punya ilmu memadai, terutama dalam bidang pengetahuan agama.

Menurut Gus Mus, media sosial tidak boleh dianggap remeh.

Kiai dalam pandangannya harus aktif mengisi ruang-ruang media sosial dengan pengetahuan-pengetahuan agama, khususnya yang saat ini dibutuhkan masyarakat luas.

Senin, 04 Juli 2022

Kiai Pesantren vs Kiai Langgar

Posted by ADMIN On Senin, Juli 04, 2022


Tanpa mengecilkan takzim sy kepada kiai-kiai pengasuh pondok yang mengasuh ratusan atau bahkan ribuan santri, sy sangat hormat kepada yang namanya kiai langgar. Beberapa menyebut mereka kiai kentongan, atau, menurut Gus Dur, kiai kampung. Sy kira, semua dari kita pun semestinya juga demikian.

Kepada kiai-kiai pengasuh pesantren, sudah barang tentu kita harus hormat. Sebab mereka adalah alim-allamah yang menjaga eksistensi ilmu agama. Tanpa mereka, dunia berakhir. Lantas apa alasan kita harus hormat kepada kiai langgar?

Ada banyak alasan untuk itu. Pertama, siapa yang mengajari anak-anak kecil agar mampu membaca alif-ba-ta, termasuk akidah dan fikih dasar, kalau bukan kiai langgar? Pesantren-pesantren besar umumnya tidak menyediakan pengajaran itu. Mereka hanya mau menerima calon santri yang sudah menyelesaikan kurikulum dasar tersebut. Nah, kiai langgar lah yang mengajari anak-anak calon santri agar bisa diterima di pesantren.

Bagaimana dengan kiai kampung yang tidak menyelenggarakan TPA? Lah, lantas siapa lagi yang membuka 'mindset' para masyarakat atau orang tua agar mau memondokkan anaknya, kalau bukan mereka?

Alasan kedua, adalah tentang ketelatenan dalam berdakwah. 

Dalam keseharian, kiai pesantren berjibaku pada kitab-kitab, baik untuk murajaah maupun mempelajari kitab baru, juga menghadapi para santri untuk mengajarnya. Sementara yang dihadapi kiai langgar atau kiai kampung adalah masyarakat atau jamaahnya, juga anak-anak TPA.

Nah, yang namanya kitab—yang digeluti kiai pesantren, bagaimanapun adalah 'benda mati', yang tidak memiliki kehendak. Sedangkan santri, meski mereka adalah manusia yang memiliki kehendak, adalah individu-individu yang "sam'an wa tha'atan", yang tidak ada kata selain "siap laksanakan" apabila berinteraksi dengan kiai. 

Sementara yang dihadapi kiai kampung atau kiai langgar adalah jamaah atau masyarakat dan anak-anak. Mereka awam. Tiap-tiap dari mereka memiliki kehendak yang mungkin berbeda satu sama lain. Mereka juga tidak mengenal kata "sami'na wa atha'na". Bayangkan sendiri bagaimana "mudah"-nya menghadapi masyarakat yang demikian.

Oleh karena itu, dalam mengelola lembaga pendidikan dan tempat berikut praktik ibadah di langgar dan TPA agar benar-benar sesuai dengan syariat, misalnya, tidak semudah di pesantren. (Maka jangan heran apabila salat di langgar-langgar kampung diimami oleh orang yang masih belepotan bacaan al-Qurannya).

Alasan selanjutnya adalah privillige. Kiai pesantren memperoleh kehormatan tidak hanya dari ribuan santrinya saja tetapi juga dari penguasa dan pelaku politik. Masyarakat umum, pada akhirnya (melalui testimoni para penguasa, termasuk efek media), juga menaruh hormat pada mereka. Banser pun berebut ingin mengawalnya. Kalau perlu terjunkan personil dari kesatuan terbaik. Kendaraan untuk menjemput-antar, jika perlu, dicarikan yang terbaik.

Bandingkan dengan kiai langgar. Seberapa besar privillige yang mereka peroleh jika dibandingkan dengan kiai pesantren? Juga adakah kiai langgar yang di garasinya terdapat Alphard atau Pajero Sport? (Hal-hal seperti ini, kan, yang cenderung dilihat oleh orang awam?)

Kemudian dengan ratusan atau ribuan santri—sebagaimana kita tahu budaya politik kita hari ini—kiai pesantren merupakan magnet yang kuat bagi penguasa dan para pelaku politik. Orang-orang yang memiliki kewenangan untuk "menata" kebijakan, termasuk anggaran, berebut untuk mencari testimoni dari kiai-kiai pesantren. Maka tidak perlu heran jika mereka relatif tidak perlu pusing apabila sekedar ingin membangun bangunan pondok, atau menggelar suatu acara. Bahkan tidak jarang pula yang mampu membeli lahan berhektar-hektar.

Sementara bagi kiai langgar atau kiai kampung, untuk merenovasi tembok langgar atau TPA-nya saja terkadang harus mempertaruhkan ''harga diri"-nya dengan membuat dan "ider" proposal. Apabila proposal tersebut diberikan ke penguasa, yang didapat hanya janji dan janji, yang mungkin akan ditepati hanya saat musim kampanye.

Memang, kemuliaan-kemuliaan yang didapat kiai pesantren merupakan buah dari ilmu yang mereka miliki, yang mereka raih dari laku riyadah (perjuangan) nan istikamah bertahun-tahun sebelumnya—termasuk riyadah dari pendahulunya. Sedangkan pesantren adalah lembaga pendidikan yang mapan karena dijangkari oleh orang-orang yang alim-allamah sepanjang waktu. 

Namun, sekali lagi—maksud tulisan ini—penghormatan kita kepada kiai langgar jangan sampai kalah dibandingkan penghormatan kita kepada kiai pesantren. Kalau perlu, jangan hanya kepada kiai-kiai pesantren saja kita sungkem atau cium tangan wolak-walik, tetapi kepada kiai langgar juga. 

Mengutip guyonan Gus Baha', barakahnya santri-santri yang kurang alim lah, agama bisa menyebar dan berkembang hingga ke desa bahkan ke daerah/daerah terpencil.

*
Oleh : Androw Dzulfikar

Rabu, 15 Juni 2022

Rencana Deklarasi IKA GP Ansor. Gus Syafiq: Gerakan Tidak Produktif dan Tidak Membangun Organisasi

Posted by ADMIN On Rabu, Juni 15, 2022


Anwalin News - Beredarnya broadcst undangan deklarasi Ikatan Alumni GP Ansor (IKA GP Ansor) yang dalam informasi tersebut akan dilangsungkan di surabaya, telah membuat banyak pihak bersuara. 

Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur, melalui ketuanya, Gus Syafiq Syauqi meminta kepada semua pihak untuk tidak membuat gerakan diluar sistem organisasi GP Ansor. 

Dalam pernyataannya, Gus Syafiq menilai bahwa gerakan untuk membentuk IKA GP Ansor yang menjadi isu hangat hari ini adalah gerakan yang tidak produktif bagi organisasi, ia menilai saat ini yang dibutuhkan oleh GP Ansor bukan membentuk wadah alumni, tapi revitalisasi peran keumatan dan kebangsaan di tengah surplus anak muda dan tantangan era disrupsi. 

"Kita membaca dan menyimak dengan seksama bahwa rencana deklarasi IKA GP Ansor ini telah menjadi isu dan perbincangan keluarga besar Ansor, sangat disayangkan jika kemudian diskursus kita sebagai kader fokus pada hal yang tidak substansial seperti ini. Harusnya diskusi kita dan gagasan kita lebih progressif dan bermutu" Ujar Gus Syafiq. 

Terlebih Gus Syafiq juga mendengar informasi bahwa pembentukan IKA GP Ansor itu tujuannya adalah pragmatis dan jangka pendek. 

"Kita juga mencari informasi tentang ini, bahwa memang ada informasi dan analisis bahwa IKA GP Ansor ini tujuannya adalah politis menyambut kontestasi 2024. Semoga semuanya kembali pada frame besar bahwa GP Ansor adalah Organisasi Idealis yang membawa misi besar Islam dan Indonesia" Imbuhnya. 

Seperti diketahui bahwa rencana deklarasi yang bakal digelar di Parkir Barat Museum NU Kota Surabaya tersebut di luar sepengetahuan dan garis organisasi GP Ansor.

Gus Syafiq berharap kepada siapapun yang hendak melakukan deklarasi itu untuk memgurungkan niat dan kembali kepada tatanan organisasi yang selama ini sudah sangat baik. 

"Kepada para penggagas, kami harap ini untuk segera diakhiri, GP Ansor butuh ide gagasan lain untuk kebesaran organisasi, bukan gagasan yang belum lahir saja sudah bikin gaduh dan tidak produktif" Pungkasnya.


Sumber Berita: ansorjatim.or.id

Kamis, 02 Juni 2022

Habib Luthfi Diangkat Jadi Warga Kehormatan Korps Baret Cokelat

Posted by ADMIN On Kamis, Juni 02, 2022


Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya atau Habib Luthfi diangkat menjadi Warga Kehormatan Pusat Kesenjataan Artileri Medan (Pussenarmed) TNI A D, Senin (30/5/2022).

Danpussenarmed Mayjen TNI Totok Imam Santoso mengatakan diangkatnya Habib Luthfi menjadi Warga Kehormatan Korps Baret Cokelat bukan tanpa alasan. Menurutnya, Habib Luthfi merupakan seorang tokoh ulama kharismatik yang nasionalismenya sangat kuat. 

"Pemikiran-pemikiran beliau tentang NKRI, agama, dan sejarah tidak diragukan lagi dan sangat briliant, beliau hafal betul," ujar dia lewat unggahan di akun Instagram @totok_Imam dikutip, Selasa (31/5/2022).

Mayjen Totok menuturkan Habib Luthfi dalam amanatnya menginginkan generasi ke depan yang lebih militan, cinta NKRI, paham kebangsaan dan bertoleransi kuat.

"Beliau menyampaikan filosopi di balik bendera Merah Putih yang mengandung makna: Kehormatan, harga diri, persatuan, dan kesatuan," katanya.

Pussenarmed adalah Badan Pelaksana Komando Pembina Doktrin, Pendidikan, dan Latihan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (Kodiklatad) dan sebagai Staf Khusus KSAD di bidang pembinaan kesenjataan, pendidikan, latihan, penelitian, dan pengembangan bidang Artileri Medan (Armed), dalam rangka pembinaan kemampuan serta kekuatan kesenjataan Armed yang berkedudukan langsung di bawah Dankodiklatad.

Pussenarmed Kodiklat TNI AD bertugas pokok menyelenggarakan pembinaan bidang kesenjataan Artileri Medan, meliputi pembinaan kesenjataan, pendidikan, latihan, penelitian dan pengembangan bidang Armed, dalam rangka pembinaan kemampuan serta kekuatan kesenjataan Artileri Medan.



Sumber: 
IG : @totok_imam 
Sindonews.com

Senin, 25 April 2022

Infinity legacy; Apa itu Virtual Reality, Oculus dan Metaverse?

Posted by ADMIN On Senin, April 25, 2022


Mungkin banyak yang bertanya hal yang sama, Ketum memakai kacamata VR dan kita membatin dalam hati, apa ya yang dilihat?

Sebelum kesitu, sedikit penjelasan tentang alam Virtual Reality (VR). Sebuah semesta digital yang persepsinya 360 derajat alias sama sepeerti dunia yang kita lihat, rasakan, dengar dan alami.

Ketika kita bebas mengarahkan pandangan tak terbatas ke segala arah, melihat apapun sejauh mata memandang. Demikian juga dunia VR, sebuah alam sadar baru yang diciptakan menggunakan tehnologi dengan tujuan menyingkat ruang dan waktu menjadi satu dalam sebuah cangkang digital.

Karena waktu sangat berharga, maka dunia VR adalah jawaban, saat ini kita mengenal zoom atau google meet yang menyatukan kita dalam sebuah layar. Membicarakan strategi, ngobrol santai, rapat tanpa harus bertemu secara fisik.

Dunia VR menawarkan kelengkapan baru, dimana dalam ruang VR tanpa batas ini kita bisa melokukan nyaris segalanya kecuali kontak langsung. Yang selama ini hanya menjadi fantasi, bisa dicecap dengan nyata. Saling bertukar data, menuju ke pasar digital, menuju ruang pameran, menuju sebuah ruang privat, bermain, nobar, apel Banser, memancing, memasak dan semua hal yang bisa dilakukan secara fisik. 

Kata kuncinya: 

SEMUA YANG BISA DILAKUKAN DI DUNIA FANA BISA DILAKUKAN DI DUNIA VIRTUAL. KECUALI BERSENTUHAN.

Gus Yaqut mencanangkan transformasi medan juang di tahun 2021, ciptakan sesuatu yang mendunia dan bermanfaat bagi kader. Sebuah pesan holistik tentang khidmat tanpa henti bagi kader Ansor Banser di seluruh Dunia.

Jawabannya ada di tahun 2022 ketika Gerakan Pemuda Ansor memasuki era Digitalisai. Mulai dari membangun digitisasi mengubah semua yang berbau kertas menjadi PDF yaitu SK yang tidak lagi memakai kertas yang rawan pemalsuan sampai database kader yang diklasterisasi dengan kaidah digital. 

Kemudian momentum harlah ke-88 GP Ansor yang mengenalkan Ansor Virtual Expo. Sebuah ruangb tanpa batas yang akan mengakomodasi ruang-ruang di Kantor Pimpinan Pusat dan juga membangun sebuah marketplace bagi Kader. Mulai kegiatan rapat harian, rapat koordinasi, apel Banser, seminar, bazar bahkan konferensi bisa dilakukan di “Kantor Virtual” PP GP Ansor di metaverse (Alam virtual besar terintergrasi dengan platform medsos terbesar)

Saat harlah ditampilkan sebuah bangunan yang sudah jadi dan terus dikembangkan selama 1 tahun kedepan menjadi marketplace untuk Kader. 

Untuk menyingkat cerita diatas, inilah yang ditampilkan di kacamata virtual yang dipakai Gus Ketum, dan bisa juga diakses menggunakan laptop di harlah88.ansor.id

Inilah sebuah warisan dari Gus Yaqut yang tanpa batas dan akan terus dikembangkan menuju kemaslahatan Kader dan juga berkontribusi untuk bangsa. Sebagai implementasi dari “Jangan Lelah Mencintai Indonesia”

Berkhidmat tanpa batas.


Sumber : FB. Gerakan Pemuda Ansor

Minggu, 24 April 2022

HARLAH KE-88 GERAKAN PEMUDA ANSOR

Posted by ADMIN On Minggu, April 24, 2022


Sejarah lahirnya GP Ansor tidak terlepas dari sejarah kelahiran NU itu sendiri. Pada tahun 1921 telah muncul ide untuk mendirikan organisasi pemuda secara intensif. Hal itu juga didorong oleh kondisi saat itu, banyak muncul organisasi pemuda bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatra, Jong Minahasa, dll. Terlepas dari itu, muncul perbedaan pendapat antara kaum modernis dan tradisionalis yang disebabkan oleh perbedaan pendapat masalah mazhab dan masalah furu'iyah lainnya.

Pada tahun 1924, KH. A. Wahab Hasbullah membentuk organisasi sendiri bernama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) yang dipimpin oleh KH. Abdullah Ubaid sebagai Ketua dan KH. Thohir Bakri sebagai Wakil Ketua, serta KH. Abdurrahim selaku sekretaris.

Setelah mulai banyak remaja yang ingin bergabung Syubbanul Wathan, maka pengurus membuat sesi khusus mengurus mereka yang lebih mengarah kepada kepanduan yang disebut “Ahlul Wathan”.

Kemudian atas inisiatif KH. Abdullah Ubaid, pada tahun 1931 terbentuklah Persatuan Pemuda Nahdlatul Ulama (PPNU) dan pada 14 Desember 1932, PPNU berubah nama menjadi Pemuda Nahdlatul Ulama (PNU). Pada tahun 1934 berubah lagi menjadi Ansor Nahdlatul Oelama (ANO). Sampai sini meski ANO sudah diakui sebagai bagian dari NU, namun secara formal belum tercantum dalam struktur dan Banom NU.

Nama Ansor merupakan saran KH. A. Wahab Hasbullah yang diambil dari nama kehormatan dari Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan Islam dan Negeri. Dengan demikian, ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah dan teladan terhadap sikap, perilaku, dan semangat perjuangan para sahabat Nabi Muhammmad yang mendapat sebutan "Ansor " tersebut. Gerakan ANO (yang kini disebut GP Ansor) harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar Sahabat Ansor, yakni sebagai penolong, pejuang, dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan, dan membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen awal yang harus dipegang teguh setiap anggota ANO (GP Ansor).

Pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi yang dipimpin oleh KH. Saleh Lateng, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934 M, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain: KH. Thohir Bakri sebagai Ketua, KH. Abdullah Ubaid sebagai Wakil Ketua, H. Achmad Barawi dan Abdus Salam sebagai Sekretaris.

Dalam perkembangannya secara diam-diam, khususnya ANO Cabang Malang mengembangkan organisasi gerakan kepanduan yang disebut BANOE (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama) yang kini disebut BANSER (Barisan Serbaguna). Dalam Kongres II ANO di Malang tahun 1937, BANOE menunjukkan kebolehan pertama kalinya dalam baris-berbaris dengan mengenakan seragam dengan Komandan Moh. Syamsul Islam yang juga Ketua ANO Cabang Malang. Sedangkan instruktur umum Banoe Malang adalah Mayor TNI Hamid Roesdi. Salah satu keputusan penting Kongres II ANO di Malang tersebut adalah didirikannya BANOE di tiap cabang ANO. Selain itu, menyempurnakan Anggaran Rumah Tangga ANO terutama yang menyangkut soal BANOE.

Pada masa penjajahan Jepang, organisasi-organisasi pemuda diberangus oleh Jepang termasuk ANO. Kemudian tokoh ANO Cabang Surabaya, Moh. Chusaini Tiway mengemukakan ide untuk mengaktifkan kembali ANO dan mendapat respon positif dari KH. Wachid Hasyim (Menteri Agama RIS kala itu), maka pada tanggal 14 Desember 1949 lahir kesepakatan membangun kembali ANO dengan nama baru Gerakan Pemuda Ansor atau disingkat GP Ansor.

GP Ansor hingga saat ini telah berkembang sedemikan rupa menjadi organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia yang memiliki watak kepemudaan, kerakyatan, keislaman, dan kebangsaan. GP Ansor hingga saat ini telah berkembang memiliki 433 Cabang (Tingkat Kabupaten/Kota) di bawah koordinasi 32 Pengurus Wilayah (Tingkat Provinsi) hingga ke tingkat desa. Ditambah dengan kemampuannya mengelola keanggotaan khusus BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) yang memiliki kualitas dan kekuatan tersendiri di tengah masyarakat.

Di sepanjang sejarah perjalanan bangsa, dengan kemampuan dan kekuatan tersebut GP Ansor memiliki peran strategis dan signifikan dalam perkembangan masyarakat Indonesia. GP Ansor mampu mempertahankan eksistensi dirinya, mampu mendorong percepatan mobilitas sosial, politik dan kebudayaan bagi anggotanya, serta mampu menunjukkan kualitas peran maupun kualitas keanggotaannya. GP Ansor tetap eksis dalam setiap episode sejarah perjalan bangsa dan tetap menempati posisi dan peran yang stategis dalam setiap pergantian kepemimpinan nasional.

Selamat Harlah 88 Gerakan Pemuda Ansor

SILAHKAN BACA JUGA !


If you want to test someone’s character, give him respect. If he has good character, he will respect you more. If he has bad character, he will think is the best of all.

------------

Jika kamu ingin menguji karakter seseorang, hormati dia. Jika dia memiliki akhlak yang baik, maka dia akan lebih menghormatimu. Jika dia memiliki akhlak yang buruk, dia akan merasa dirinya yang paling baik.