Assalamu'alaikum Wr. Wb. ----- SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI PIMPINAN ANAK CABANG GERAKAN PEMUDA ANSOR WATULIMO ----- Semoga Bermanfaat Untuk Kita Semua!

Rabu, 23 September 2020

Menilik Resolusi Hasyim Asy’ari

Posted by MCR On Rabu, September 23, 2020 No comments

Islam adalah agama penebar kasih sayang. Islam tidak memandang ras, suku bangsa, warna kulit, bahkan toleran terhadap agama lain. Islam adalah agama Rahmatan Lil ‘Alamin, namun pada kenyataannya sebagian umat manusia memandang agama Islam hanya sebagai ritual yang dikhususkan kepada Tuhan. Tidak diekspresikan dalam perilaku melindungi sesama mahkluk Tuhan di bumi.

Islam mengajarkan cinta kasih terhadap sesama. Tanpa ada kekerasan, misal saling membunuh. Namun berapa banyak orang Islam yang perilakunya bertentangan dengan ajaran agama. Misal aksi al-Qaeda di Timur Tengah yang membombardir gedung di Amerika Serikat tahun 2001, Jama’ah Islamiyah di Mesir yang telah banyak membunuh orang-orang Islam, bahkan yang sangat mengejutkan akhir-akhir ini adanya kelompok ISIS yang sangat radikal, yang banyak membunuh orang-orang Kurdi yang tidak sepaham gerakannya.

Begitu juga di dalam negeri, ketika bulan puasa, gerakan kelompok Islam radikal ini melakukan sweping. Dengan asumsi menghormati bulan puasa, dan ujung-ujungnya memakai kekerasan. Pun bom Bali yang dilakukan oleh Imam Samudra dan kawan-kawannya. Mereka beranggapan tempat dan perayaan-perayaan tersebut mengandung unsur maksiat atau tidak diperbolehkan, padahal tidak sedikit di antara korbannya yang beragama Islam.

Oleh karena, gerakan kelompok Islam radikal ini, menyalahartikan Islam, citra Islam sehingga tercemar. Islam dikaitkan dengan terorisme, yang benar-benar sudah keluar dari hakikat agama. Seringkali orang-orang fanatis terhadap golongan, menuhankan diri dan golongannya yang paling benar sendiri. Seakan-akan mereka yang paling benar sendiri. Selain itu, melekatnya citra jihad sebagai perang (qital), teror dan memaksa orang-orang non-muslim masuk dengan cara-cara militer dan kekerasan (hal. 9).

Karena mempertahankan faham radikal tersebut, sebagian orang (termasuk orientalis Barat) menyebut bahwa Islam adalah agama teroris dan tidak humanis. Pemahaman mereka (Islam radikal) yang sepotong-potong dan ahistoris, menganggap kekerasan atas nama agama sebagai bentuk jihad yang bertendensi pada ayat-ayat al-Qur’an dan Hadist Nabi. Barangkali mereka lupa Nabi Muhammad diutus untk memperbaiki akhlak manusia.

Dari paradigma di atas, seharusnya perlu sekali diubah oleh umat Islam saat ini. Jihad bukan berarti harus selalu identik dengan perang atau kekerasan, tetapi juga mampu mengubah diri sendiri (jihad al-nafs), melindungi kaum lemah dan tertindas serta merawat alam demi keberlangsungan hidup penerus manusia ke depan. Selain itu, jihad juga memberi implikasi spiritual, dan memiliki implikasi sosial yang positif dalam menata kehidupan sepanjang sejarah manusia.

Salah satu ulama dan sekaligus guru bangsa yang terkenal dengan pemikiran jihadnya adalah KH. Hasyim Asy’ari. Konsep jihad Mbah Hasyim Asy’ari tidak selalu bersifat kekerasan dan lebih diprioritaskan untuk memperbaiki diri (jihad al-nafs), serta mempertimbangkan aspek kemaslahatan bagi umat.

Istilah jihad KH. Hasyim Asy’ari menunjukkan bahwa pada dasarnya Islam adalah agama santun, menghadapi tantangan hidup penuh kesungguhan dalam menyebarkan islam, membela dan mencegah segala bentuk kemungkaran ataupun kesejahteraan umat Islam. Apabila memaknai istilah jihad hanya mengacu pada perang sama artinya dengan melembagakan Islam sebagai agama kekerasan (hal. 114).

Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari sekaligus ulama pendiri Nahdhatul Ulama (NU) tidak mengartikan jihad sebagai perang, namun dalam perjalanan hidupnya, ia selalu membela rakyat kecil, menyantuni anak yatim dan memberikan pendidikan kepada masyarakat. Memberi kabar yang baik. Tidak menyebar berita-berita yang menyesatkan (HOAX). Ia selalu menekankan untuk menjalankan akidah secara benar, serta menjaga tali persaudaraan.

Buku yang ditulis oleh Muhammad Rahmatullah ini sangat penting dengan konteks kekinian. Rahmatullah mampu menulis percikan-percikan pemikiran para ulama—khususnya Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari—untuk memberikan informasi dan salah satu penangkal faham Islam radikal.

Ulama yang pernah difilmkan dengan judul Sang Kiai ini tidak segan-segan mengeluarkan fatwa jihad: wajib setiap orang Islam untuk berjihad (perang) melawan kolonial Belanda. Pada 17 Agustus 1945, Indonesia sudah menjadi sebuah negara berdaulat dan menjadi NKRI, belum genap satu bulan (8 September 1945) setelah proklamasi, pasukan AFNEI (Allied Forces Netherland East Indies) yang bergabung dengan tentara NICA menguasai NKRI lagi. Fatwa jihadnya pada 1945, setiap warga dan orang Islam mengangkat senjata ketika tentara NICA atau kolonial menduduki Tanah Air, Indonesia.

Karena itulah, Hasyim Asy’ari memberi statemen terkait dengan penjajahan dan kekafiran NICA pada tanggal 7-8 November 1945. Resolusi jihad pada 22 Oktober 1945 yang kemudian ditindak-lanjuti oleh NU adalah salah satu bentuk perjuangan membela kedaulatan negara.

Mbah Hasyim mengatakan setiap penjajahan merupakan bentuk kedzaliman, yang melanggar perikemanusiaan. Jihad yang dilaksanakan oleh KH. Hasyim Asy’ari tidak bertujuan menegakkan ajaran Islam, tetapi juga menciptakan rasa aman dan damai di negeri yang plural, baik lintas agama, budaya maupun suku bangsa (hal. 110).

Kemudian melalui ekternalisasi keulamaan, beliau tidak hanya memainkan peran dalam hubungan diniyah saja, namun juga untuk kepentingan wathaniyah (kebangsaan). Seperti yang dideskripsikan dalam film Sang Kiai, para kiai dan santri terjun ke medan perang untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, baik yang bergabung dengan Hisbullah, PETA, dan laskar-laskar pejuang yang lain, (Hubbul Wathan Minal Iman). Karenanya, jihad KH. Hasyim Asy’ari tidak patron satu makna, akan tetapi lebih kepada konteks di mana dan dengan siapa jihad itu harus dilaksanakan.

Oleh sebab itu, gagasan jihad KH. Hasyim Asy’ari masih relevan dengan masyarakat Indonesia kekinian. Jihad (perang) melawan imperalisme dan kapitalisme kebudayaan dan tradisi Indonesia. Jihad Mbah Hasyim terinspirasi dari fakta sejarah Nabi Muhammad, yang memperbaiki akhlak umatnya.[]

Judul Buku : Jihad Ala KH. Hasyim Asy’ari; Upaya Menangkal Islam Radikal
Penulis : Muhammad Rahmatullah
Penerbit : Imtiyaz-Surabaya
Tebal : xviii +180 hlm
Cetakan : 1, April 2015

0 Komentar:

Posting Komentar

Mohon Saran dan Kritik Yang Sifatnya Konstruktif!

SILAHKAN BACA JUGA !


If you want to test someone’s character, give him respect. If he has good character, he will respect you more. If he has bad character, he will think is the best of all.

------------

Jika kamu ingin menguji karakter seseorang, hormati dia. Jika dia memiliki akhlak yang baik, maka dia akan lebih menghormatimu. Jika dia memiliki akhlak yang buruk, dia akan merasa dirinya yang paling baik.