Assalamu'alaikum Wr. Wb. ----- SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI PIMPINAN ANAK CABANG GERAKAN PEMUDA ANSOR WATULIMO ----- Semoga Bermanfaat Untuk Kita Semua!

Kamis, 03 Desember 2020

Kisah Cinta Abdullah Bin Salam dan Akhlak Mulia Cucu Rasulullah SAW, Husain bin Ali RA.

Posted by ADMIN On Kamis, Desember 03, 2020 No comments


Yazid bin Muawiyah mendengar kabar kecantikan Zainab binti Ishaq, istri Abdullah bin Salam al-Qurasyi. Zainab merupakan sosok perempuan paling cantik, paling berakhlak, dan paling banyak hartanya saat itu. Yazid nampaknya jatuh cinta kepada Zainab. Ketika kesabarannya telah habis, Yazid menceritakan keinginannya kepada salah satu pengawal ayahnya, yaitu Rafiq. Rafiq lantas menceritakan hal tersebut kepada Muawiyah bin Abu Sufyan. Rafiq berkata kepada Muawiyah, “Puteramu Yazid telah kehilangan kesabarannya dan dadanya sesak karena menginginkan Zainab.”

Muawiyah mengirim utusan kepada Yazid untuk menanyakan kebenaran berita tersebut. Yazid lantas mengungkapkan isi perasaannya. Muawiyah berkata, “Tenangkan dirimu Yazid!!” Yazid berkata, “Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk tenang sementara tidak ada lagi harapan untuk mendapatkan Zainab!” Muawiyah lalu berkata, “Sembunyikanlah keinginanmu itu anakku. Memperlihatkannya justru tidak akan bermanfaat bagimu. Allah akan memenuhi urusanmu dan hal itu pasti akan terjadi.”

Muawiyah lantas melakukan muslihat supaya Yazid bisa mendapatkan keinginannya. Muawiyah lalu mengirim surat kepada suami Zainab, yaitu Abdullah bin Salam, yang waktu itu diperintahkan oleh Muawiyah untuk memerintah wilayah Irak. “Menghadaplah kepadaku saat kau membaca suratku ini, karena ada suatu urusan yang akan menguntungkanmu Insya Allah. Janganlah kau terlambat untuk memenuhinya.”

Abdullah bin Salam lantas bergegas mendatangi Muawiyah. Muawiyah menyediakan tempat singgah yang telah disediakan untuknya. Saat itu di Syam, Muawiyah ditemani oleh Abu Hurairah dan Abu Darda. Muawiyah berkata kepada keduanya:
“Aku punya anak perempuan yang ingin aku nikahkan. Dan aku sedang memilikirkan untuk memilih orang yang pantas untuk menikahinya, sehingga setelah aku meninggal ia dijadikan panutan warisanku dan meneruskan jejakku. Bisa saja nanti setelahnya, kekuasaan ini dipegang oleh orang yang dikuasai setan sehingga ia menahan anak-anak perempuan untuk tidak menikahkannya secara zalim dan tidak melihat sosok yang sepadan dan pantas untuk puteriku. Aku rela untuk menikahkannya dengan Abdullah bin Salam al-Qurasyi karena agama dan kemuliaannya, juga keutamaan dan muruahnya.”

Abu Hurairah dan Abu Darda berkata kepada Muawiyah, “Sesungguhnya manusia yang paling utama untuk menjaga nikmat Allah dan mensyukurinya, dan mencari keridaan-Nya dalam tugas yang diberikannya, tentu adalah engkau, Muawiyah.”

Muawiyah lalu berkata kepada mereka berdua, “Ya sudah, beritahu hal ini kepada Abdullah bin Salam. Terkait pernikahan puteriku, aku akan bermusyawarah dengannya, meskipun tentu saja aku berharap dia juga akan setuju dengan pendapatku insya Allah.”

Abu Hurairah dan Abu Darda lantas berpamitan dari hadapan Muawiyah dan mendatangi Abdullah bin Salam. Mereka menceritakan kelinginan Muawiyah kepada Abdullah bin Salam.

Saat itu, Muawiyah menemui puterinya dan berkata kepadanya, “Jika Abu Darda dan Abu Hurairah menemuimu, lalu membicarakan perihal Abdullah bin Salam dan meminta agar kau bersegera untuk menyetujui pendapatku untuk menikahi Abdullah bin Salam, katakanlah kepada mereka berdua, “Sesungguhnya Abdullah bin Salam adalah orang yang sekufu juga mulia. Ia adalah orang yang dekat dan dicintai. Hanya saja, Abdullah telah menikah dengan Zainab binti Ishaq dan aku takut cemburu seperti cemburunya perempuan lain, sehingga aku melakukan hal yang membuat murka Allah swt dan Dia menghukumku atasnya. Aku tidak akan menikahinya sampai Abdullah menceraikan istrinya.”

Ketika Abu Hurairah dan Abu Darda bertemu dengan Abdullah bin Salam dan mengabarinya tentang perkataan Muawiyah, Abdullah meminta keduanya untuk kembali kepada Muawiyah dan memintanya untuk melamarkan dirinya untuk puteri Muawiyah. Keduanya lantas mendatangi Muawiyah. Muawiyah lalu berkata kepada mereka berdua, “Kalian berdua telah mengetahui bahwa aku rela dan sangat suka terhadap Abdullah bin Salam. Aku juga telah mengabari kalian berdua bahwa aku akan bermusyawarah terkait hal ini kepada puteriku. Temuilah puteriku dan tawarkan kepadanya apa yang menjadi pendapatku.”

Abu Hrairah dan Abu Darda lantas menemui puteri Muawiyah dan menceritakan segalanya. Puteri Muawiyah itu mengatakan persis seperti yang disuruh oleh ayahnya. Keduanya lantas kembali menemui Abdullah bin Salam dan mengabarinya apa yang dikatakan oleh puteri Muawiyah.

Ketika Abdullah bin Salam mengira bahwa dia tidak akan mendapatkan puteri Muawiyah kecuali dengan menalak istrinya, ia mempersaksikan kepada Abu Hurairah dan Abu Darda bahwa dirinya telah menalak Zainab dan meminta keduanya untuk kembali menemui puteri Muawiyah.

Abu Hurairah dan Abu Darda menemui Muawiyah dan memberitahukan kepadanya bahwa Abdullah bin Salam telah menalak istrinya, Zainab, karena ingin mendapatkan puterinya. Saat itu Muawiyah memperlihatkan ketidaksukaannya (berpura-pura) terpada keputusan Abdullah yang menalak Zainab.” Ia berkata, “Menurutku dia sebaiknya tidak menalak istrinya. Aku tidak suka hal itu terjadi. Ya sudah, pergilah dari sini dan temuilah puteriku untuk mengambil persetujuannya.”

Abu Hurairah dan Abu Darda lantas berdiri dan diperintahkan untuk menemui puterinya dan menanyakan persetujuannya untuk menikahi Abdullah bin Salam. Muawiyah berkata, “Aku tidak memaksanya. Aku sudah bermusyawarah dengannya terkait urusan-urusan pribadinya.”

 Keduanya lalu menemui puteri Muawiyah dan mengabarkannya perihal Abdullah bin Salam yang telah menceraikan istrinya. Keduanya juga menuturkan sifat Abdullah yang mulia dan nasabnya yang terhormat. Puteri Muawiyah lalu berkata, “Sungguh di kabilah Quraisy, Abdullah adalah orang yang memiliki kedudukan yang tinggi. Kalian berdua sudah tahu bahwa tidak terburu-buru dalam segala urusan lebih bisa menyelamatkan kita dari hal yang buruk. Aku ingin mencari informasi lagi mengenai Abdullah sehingga benar-benar mengetahui kepribadiannya secara utuh. Setelah itu baru aku akan mengabari kalian berdua terkait keputusan yang Allah siapkan untukku. Tidak ada kekuatan selain yang diberikan oleh Allah.” Keduanya lalu berkata, “Semoga Allah melancarkan urusanmu,” lalu keduanya undur diri dan menemui Abdullah bin Salam. Mereka menceritakan apa saja yang dikatakn puteri Muawiyah itu. Abdullah lantas menandungkan puisi:

“Duh, jika permulaan hari ini sudah berpaling

Kiranya esok hal serupa akan kembali mendekatiku.”

Orang-orang akhirnya ramai membicarakan cerita Abdullah bin Salam yang menalak istrinya, dan berita terkait niatnya yang akan melamar puteri Muawiyah. Mereka mencemooh Abdullah bin Salam yang terburu-buru menalak istrinya sebelum permasalahan jelas dan terang benderang, karena mereka tahu kebobrokan Yazid dan kelicikan Muawiyah.

Abdullah bin Salam mendorong agar Abu Hurairah dan Abu Darda untuk mendatangi puteri Muawiyah. Keduanya berkata kepadanya, “Putuskanlah apa yang menjadi pilihanmu. Mintalah kepada Allah agar memilihkannya untukmu karena Dia pemberi petunjuk kepada siapa saja yang memintanya.” Puteri Muawiyah berkata, “Aku berharap Allah telah memilihkannya untukku. Aku telah menggali semua informasi terkait Abdullah bin Salam sampai aku mengetahuinya secara utuh. Dan ternyata setelah pencarian itu aku menemukan bahwa Abdullah tidaklah sesuai dan cocok dengan yang aku inginkan. Orang yang aku minta pendapatnya pun berbeda-beda, ada yang melarang, ada juga yang mendukung. Dan perselisihan mereka tentu saja menjadi hal pertama yang aku benci.”

Ketika Abu Hurairah dan Abu Darda menyampaikan isi hati puteri Muawiyah kepada Abdullah bin Salam, Abdullah mengerti bahwa dirinya telah ditipu.

Kabar tersebut akhirnya tersebar di masyarakat. Orang-orang berkata, “Dia ditipu oleh Muawiyah sampai-sampai menceraikan istrinya. Padahal sebenarnya Muawiyah ingin menikahkannya dengan Yazid, anaknya.”

Setelah masa idah Zainab selesai, Muawiyah mengutus Abu Darda untuk pergi ke Irak guna melamarkan Yazid untuk Zainab. Abu Darda langsung bertolak dan sampai ke kota Kufah. Saat itu, Husain bin Ali sedang menetap di kota tersebut. Abu Darda langsung mengunjunginya karena menghormati kedudukan Husain. Husain menjawab salamnya dan menanyakan sebab kedatangannya ke kota Kufah. Abu Darda berkata,
“Muawiyah mengutusku untuk mengkhitbahkan Zainab kepada Yazid.”

Abu Darda lalu menceritakan secara detail terkait peristiwa yang terjadi sebelumnya. Husain lalu berkata kepadanya, “Sudah sejak lama aku ingin menikahi Zainab binti Ishaq. Aku bermaksud ingin mengutus seseorang kepadanya saat masa idahnya selesai. Aku menunggu sampai ada orang sepertimu yang melakukannya dan sekarang ini kau didatangkan oleh Allah kepadaku. Lamarlah Zainab atas namaku dan Yazid supaya Zainab memilih siapa yang Allah tentukan untuknya. Ini merupakan amanat untukmu sampai kau menyampaikannya kepada Zainab. Aku akan memberinya mahar yang setara dengan yang akan diberikan oleh Muawiyah untuk anaknya nanti.”

Abu Darda lalu berkata, “Insya Allah akan aku lakukan.”

Ketika Abu Darda menemui Zainab, ia berkata, “Wahai Zainab, sesungguhnya Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan kuasa-Nya dan membentuknya dengan kebesaran-Nya. Ia menjadikan segala sesuatu memiliki takdirnya tersendiri dan di balik takdir tersebut Allah menjadikannya sebab. Tidaklah seorangpun yang bisa melarikan diri dari ketentuan Allah. Di antara yang menjadi takdir Allah untukmu adalah suamimu, Abdullah bin Salam, telah menceraikanmu, dan semoga hal itu tidak merugikanmu. Kini kau dilamar oleh Yazid bin Muawiyah juga oleh Husain bin Ali. Aku datang kepadamu sebagai wakil keduanya. Pilihlah di antara mereka berdua sesukamu!”

Zainab lantas terdiam lama dan berkata, “Jika hal ini memang datang kepadaku sekarang dan kau tidak ada, aku pasti akan mengutus utusan kepadamu dan mengikuti pendapatmu. Tetapi karena yang menjadi utusannya adalah kau sendiri, maka aku serahkan urusanku kepadamu, setelah kepada Allah swt. Aku serahkan segalanya kepadamu. Pilihlah untukku orang yang paling kau sukai di antara keduanya.”

Abu Darda berkata, “Duh Zainab, aku hanya memberitahu kepadamu dan pilihan tetap ada di tanganmu.” Zainab berkata, “Semoga Allah memaafkanmu, Abu Darda! Aku adalah keponakanmu yang membutuhkanmu!”

Saat Abu Darda tidak menemukan jalan keluar lain, ia berkata, “Sesungguhnya Husain adalah orang yang paling aku sukai dan ridai.”

Zainab lalu berkata, “Kalau begitu aku sudah memilihnya dan meridainya.”

Demikianlah kisah Zainab yang menikahkan dirinya untuk Husain. Husain lantas mengirimkan maharnya. Kabar tersebut sampai ke telinga Muawiyah. Ia marah besar dan mencerca Abu Darda dengan cercaan yang keji. Muawiyah berkata, “Siapa saja yang sudah mengutus orang dungu dan buta ini, dia tidak akan mendapatkan apapun yang diinginkannya.”

Muawiyah langsung memecat Abdullah bin Salam sebagai gubernur Irak dan memutus semua fasilitas untuknya karena dia dikabari bahwa Abdullah pernah berkata yang tidak mengenakan tentang dirinya dan menuduhnya sebagai penipu dan tukang muslihat. Keadaan semakin memburuk bagi Abdullah di Syam. Bekal yang dimilikinya tinggal sedikit. Ia lantas kembali ke Irak. Sebelum bercerai dengan Zainab, ia pernah menitipkan harta dengan jumlah yang besar kepadanya. Ia mengira bahwa Zainab akan memalingkan mukanya karena perbuatan buruknya menalak dirinya yang tidak memiliki kesalahan apapun.

Ketika Abdullah bin Salam sampai ke Irak, ia langsung menemui Husain bin Ali dan memberinya salam. Abdullah berkata, “Anda tentu sudah tahu ceritaku dan Zainab. Aku pernah menitipkan harta kepadanya dan belum sempat aku ambil.” Abdullah lantas memuji kebaikan Zainab dan berkata kepada Husain, “Kabarkanlah kepadanya perihal kedatanganku, mintalah kepadanya agar ia mengembalikan hartaku.”

Ketika Husain menemui Zainab, ia berkata kepadanya, “Zainab, ada Abdullah bin Salam datang ke sini, dia memujimu dan berterima kasih karena telah menemaninya selama ini dengan baik. Hal itu membuatku senang dan takjub. Ia juga bercerita bahwa dirinya pernah menitipkan sejumlah harta kepadamu. Sampaikanlah amanat itu kepadanya dan berikanlah harta miliknya. Sungguh dia tidak berkata kecuali kejujuran dan tidak meminta apapun kecuali haknya sendiri.”

Zainab lalu berkata, “Betul, dulu dia pernah menitipkan sejumlah harta kepadaku tetapi aku sendiri tidak tahu apa isinya. Berikanlah harta itu kepadanya.” Husain lalu memujinya dan berkata dengan akhlaknya yang mulia, “Kenapa tidak kau suruh dia masuk menemuimu supaya kau terlepas dari bebanmu dari harta itu, sebagaimana dulu dia juga yang langsung memberikannya kepadamu?”

Husain lalu menemui kembali Abdullah bin Salam dan berkata, “Zainab tidak mengingkari hartamu. Dia juga mengaku bahwa harta itu masih tersegel atas namamu. Masukklah. Temui dia dan terimalah harta milikmu itu.”

Abdullah bin Salam merasa malu terhadap dirinya sendiri dan berkata kepada Husain, “Bagaimana jika anda menyuruh orang lain yang memberikan harta itu kepadaku?” Husain menjawab, “Tidak. kau sendiri yang mengambilnya dari Zainab sebagaimana dulu kau yang memberinya langsung.”

Husain lalu menemui Zainab dan berkata, “Abdullah sudah datang dan ingin mengambil harta titipannya.” Zainab langsung mengeluarkan kantung berisi harta tersebut dan meletakkannya di hadapan Abdullah dan berkata, “Ini harta milikmu.” Abdullah lantas mengucapkan rasa terima kasih dan memujinya.

Husain sengaja meninggalkan mereka berdua. Abdullah bin Salam mengambil salah satu kantung harta itu dan menyisakan untuk Zainab. Abdullah berkata, “Ambillah. Itu sedikit harta dariku.” Keduanya lantas tidak kuat menahan rasa sedih dan menangis dengan kencang meratapi nasib yang menimpa mereka berdua. Husain lalu masuk menemui mereka dan berkata dengan penuh kelembutan dan kasih sayang,
“Aku menjadikan Allah sebagai saksi bahwa aku telah menalak Zainab! Aku menjadikan Allah sebagai saksi bahwa aku tidak menikahi Zainab karena menginginkan harta dan kecantikannya. Aku hanya ingin menghalalkannya kembali untuk suaminya.”

Abdullah bin Salam lalu meminta Zainab untuk memberikan mahar yang dulu pernah ia kasihkan kepadanya. Zainab hendak mengembalikan mahar itu kepada Husain namun Husain tidak menerimanya. Ia berkata, “Yang aku harapkan berupa pahala adalah lebih baik untukku.”

NOTE:
Kisah ini diambil dan diringkas dari kitab Nihayatul Arab fi Funun al-Adab, sebuah ensiklopedia sastra berjumlah 9000 halaman (33 jilid) yang dihimpun oleh sejarawan raksasa asal Mesir, Syihabuddin an-Nuwairi (w. 1333 M).


Dikutip dari : FB Ade Gumilar

0 Komentar:

Posting Komentar

Mohon Saran dan Kritik Yang Sifatnya Konstruktif!

SILAHKAN BACA JUGA !


If you want to test someone’s character, give him respect. If he has good character, he will respect you more. If he has bad character, he will think is the best of all.

------------

Jika kamu ingin menguji karakter seseorang, hormati dia. Jika dia memiliki akhlak yang baik, maka dia akan lebih menghormatimu. Jika dia memiliki akhlak yang buruk, dia akan merasa dirinya yang paling baik.